Menyemai Benih Zamrud Khatulistiwa

Tambang, Nasionalisasi Via Saham dan Kesejahteraan Rakyat?

March 22nd, 2012 Posted in On Media | 1 Comment »

Peraturan Pemerintah No.24/2012 tentang pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara memuat bahwa pemerintah mewajibkan perusahaan penanaman modal asing pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan Izin Usaha Pertambangan khusus untuk mengalihkan 51persen sahamnya kepada peserra Indonesia. PP yang ditandatangani oleh Presiden SBY pada 21 Februari 2012 ini memberikan angin segar kepada peserta Indonesia untuk ikut dalam bisnis pertambangan. Dijelaskan juga dalam peraturan tersebut bahwa penjualan saham ini dilakukan secara bertahap, yakni setelah lima tahun berproduksi. Penjualan saham kepada peserta Indonesia, yakni pemerintah pusat dan daerah, BUMN dan Badan Swasta Nasional.


Jika PP ini benar-benar dilaksanakan, maka hal ini akan memberi harapan bagi pihak nasional untuk menguasai pengusahaan pertambangan nasional. Jika dalam 5 atau 10 tahun ke depan, PP ini terealisasi, maka tentu secara pelan-pelan sektor pertambangan Indonesia akan bisa mandiri dan tidak lagi berada di bawah penguasaan dari perusahaan-perusahaan raksasa internasional.


Dalam sejarah pertambangan Indonesia, kebijakan pemerintah ini bukanlah fenomena baru. Akan tetapi fenomena yang hampir bersamaan juga pernah terjadi dalam sejarah pertambangan Indonesia. Pada tahun 1892, ketika perusahaan milik para aristokrat Belanda hendak memperpanjang izin operasinya di Belitung, sejak akhir tahun 1880an, muncullah debat-debat hangat di Parlemen Belanda. Dari debat itu banyak yang menantang izin operasi penambangan, karena selama kurang 40 tahun lebih (1852) perusahaan itu beroperasi di pulau Belitung, kesejahteraan penduduk pulau itu masih jauh dari harapan. Penduduk masih miskin, pendidikan sangat rendah. Pendeknya hampir tidak ada perubahan yang berarti yang terjadi di pulau itu.


Dari sebegitu lama perdebatan mengenai izin perpanjangan eksploitasi pertambangan di Belitung, pada tahun 1892 diperoleh perpanjangan dengan syarat bahwa akan terjadi penjualan saham, 35 persen untuk pemerintah dan 65 persen tetap dipegang oleh perusahaan Billiton. Pada tahun-tahun kemudian, pemilikanm saham pemerintah Belanda semakin diperbesar. Selain itu, perusahaan mulai memberi perhatian kepada penduduk setempat, seperti memberi kesempatan kepada penduduk untuk bekerja di perusahaan. Sumbangan-sumbangan sosial lain untuk kesejahteraan umum mulai lebih diperhatikan perusahaan. Walaupun demikian, jika dilihat dari perkembangan pulau itu secara keseluruhan, ternyata tidak mengalami perubahan yang berarti. Hal ini dibuktikan pula dalam novel Lasykar Pelangi yang menggambarkan bahwa gap antara masyarakat tambang dengan masyarakat lokal sangat tinggi, dan itu dapat dilihat, misalnya dari sektor pendidikan.


Pertanyaan kita kemudian adalah apakah dengan nasionalisasi via saham yang diterapkan ini akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah sekitar pertambangan? Akankah penduduk masih kelaparan di lumbung mati?(erwiza erman)

going back to work after having a babywhat to do when trying to get pregnant how to get pregnant fast signs your having a baby girlhaving a baby on my own

Perahu usungan kesultanan Bulungan

February 28th, 2012 Posted in On Media | No Comments »

Mengingat yang Dilupakan: Perjuangan Syekh Yusuf Menghapus Perbudakan VOC

January 19th, 2012 Posted in On Media | 1 Comment »

oleh: Erwiza Erman, Peneliti LIPI

Pendahuluan

“Dia adalah Bapak Afrika dan inspirator perjuangan anti apartheid. Ia adalah peletak dasar komunitas di Afrika Selatan, dari beliau saya mendapatkan inspirasi bahwa yang hitam dan putih adalah sama, bahwa yang bangsawan dan budak pun tidak berbeda, karena yang membedakan manusia di hadapan Tuhan adalah nilai imannya”. Inilah pernyataan pejuang Afrika Selatan, Nelson Mandela yang mengingat Syekh Yusuf, seorang putera bangsawan dari Kerajaan Goa, Makassar,  intelektual Islam yang mengglobal, sufi, dan pejuang  hak-hak azazi manusia yang dibuang Belanda ke Cape Town. Memori Nelson Mandela terhadap perjuangan Syekh Yusuf telah memberi inspirasi dan sekaligus kekuatan (power) untuk menolak dan menghapuskan politik diskriminatif antara ras berkulit hitam dan berkulit putih yang sudah lama ada (embedded) dalam sejarah negara itu. Kehadiran dan perjuangan Syekh Yusuf dengan sadar diinterpretasikan kembali oleh Nelson Mandela untuk mengambil keputusan politiknya dengan resiko yang tidak ringan. Hidup lama di penjara demi  memperjuangkan dan menghapuskan politik diskriminatif di negerinya adalah sebuah kekuatan batin yang didapatnya dari perjuangan seorang putra Makassar, Syekh Yusuf. Kemenangan Nelson Mandela dalam perjuangan itu telah diacungkan dunia. Tetapi yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa kemenangannya itu kemudian diiringi dengan usahanya mengingat 300 tahun tokoh pendaratan inspiratornya, Syekh Yusuf (2 April 1694) pertama pada  30 April 1994 di Cape Town yang kala itu bernama  Kaap Stad.  Syekh Yusuf kemudian diangkat sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan pada  tahun 2005.

Read the rest of this entry »

Peranan Naskah Klasik dalam Penulisan Sejarah Kesultanan Nusantara

January 19th, 2012 Posted in Paper & Makalah | No Comments »

oleh : Erwiza Erman, Peneliti LIPI

Pengantar

Entah suatu kebetulan atau tidak, yang pasti awal Mei 2010 lalu, seorang insinyur tambang, mantan karyawan PT.Timah tbk yang menulis buku Sejarah Timah Indonesia, tiba-tiba menanyakan kepada penulis dimanakah kini tersimpan naskah Carita Bangka? Sebagai sejarawan yang telah menggunakan naskah tersebut dalam menulis sejarah Bangka, tentu saja mengetahui dimana ‘barang langka’ itu kini berada. Naskah itu disimpan di perpustakaan KITLV, Leiden Belanda dan telah menjadi objek kajian seorang filolog Belanda E.P. Wieringa.[1] Semenjak kedatangan pertama kali penulis ke Bangka  Agustus 1990 dan kembali pada 2001 sampai kini,  barulah muncul kebutuhan orang/pemerintah Bangka untuk memiliki kembali naskah tersebut, meskipun dalam bentuk ‘kopi’ dari naskah aslinya. Kebutuhan memiliki kopi naskah itu seperti ‘sangat mendesak’, karena ingin dipamerkan di museum timah di Pangkal Pinang yang sekarang sedang dibenahi. Pembenahan museum timah oleh pemerintah daerah ditujukan untuk menghadapi ‘Babel Archi 2010’, tahun di mana propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang baru dibentuk pada November 2000, kini telah dan sedang mempersiapkan diri untuk tahun wisata 2010.

Read the rest of this entry »

KEKUASAAN MELAWAN KEADILAN: MELACAK SEJARAH UNDANG-UNDANG PERTAMBANGAN

January 18th, 2012 Posted in On Media, Opini | 2 Comments »

Oleh: Erwiza Erman, peneliti LIPI
Pengantar
Permasalahan sosial pertambangan semakin menampakkan intensitasnya yang tinggi pada masa kini. Kontradiksi peraturan yang dikeluarkan oleh pusat dan yang diterbitkan oleh daerah, memperlihatkan tidak adanya koordinasi. Hal ini pada gilirannya telah melahirkan kekerasan yang sudah digeneralisir, baik dari sudut pengawasan negara maupun dari protes masyarakat. Kondisi ini telah membawa banyak kerugian bagi kedua belah pihak, seperti yang terjadi di propinsi Serumpun Sebalai ini. Artikel ini tidak berpretensi untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab dibalik kontradiksi peraturan itu, tetapi akan membawa pembaca pada sejarah pembuatan undang-undang pertambangan. Dari sudut perkembangan sejarahnya, Undang-undang pertambangan diperbaharui, dirubah, tetapi perubahan itu dilakukan dalam kaitan dengan skandal-skandal politik yang terjadi baik di Hindia-Belanda maupun di Belanda.

Read the rest of this entry »

Tenun Silungkang dalam Badai Krisis

April 2nd, 2011 Posted in Buku | 9 Comments »

Kegiatan bertenun orang silungkang telah berlangsung lama melampaui batas rezim. Buku “Tenun Silungkang dalam Badai Krisis” ini memberikan informasi penting tentang bagaimana penenun Silungkang mampu bertahan di tengah badai krisis dari waktu ke waktu. Buku ini mengurai sejarah krisis ekonomi yang telah terjadi dari beberapa periode sejarah, dan berdampak luas pada kehidupan masyarakat silungkang, baik terhadap kelangsungan hidup budayawan tenun maupun terhadap dinamika industri pertenunan itu sendiri. Kehadiran buku ini telah bersinergi di tengah upaya pemerintah kota sawahlunto membenah diri untuk membangun kemandirian regional melalui ekonomi berbasis kerakyatan. Karena itu, buku ini penting dibaca oleh kalangan pelaku bisnis, pejabat pemerintah, maupun oleh masyarakat secara umum.

Menguak Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung

March 24th, 2011 Posted in Buku | 12 Comments »

Dunia pertambangan, tidak terkecuali timah, menghadapi permasalahan yang kompleks sejak Reformasi. Mulai dari masalah ganti rugi tanah, tumpang tindih lahan garapan dan peraturan pertambangan antara pusat-daerah, kerusakan lingkungan sampai pada persoalan penambangan dan perdagangan pasir timah ilegal yang belum terpecahkan secara tuntas.

Masalah komoditi ini tidak lagi semata-mata persoalan teknis geologis belaka, tetapi juga menyangkut persoalan memperebutkan kontrol atas timah, yang bertali temali dengan hubungan sosial-politik dan ekonomi timah di Bangka-Belitung, mulai dari pembentukan kampung, pemerintahan, perlawanan elite dan dan penambang sampai soal krisis timah dan lada serta perdagangan timah gelap untuk mencari ‘keuntungan diam’. Semua disajikan dengan lugas dalam perspektif historis, membentang sejak masa VOC sampai sekarang.

Pekik Merdeka dari sel penjara dan tambang panas

March 24th, 2011 Posted in Buku | No Comments »

Buku mungil ini bercerita tentang orang-orang kecil yang terkurung di dalam sel penjara yang berhubungan dengan mulut Tambang Panas, sebuah tambang di Sawahlunto. Ketika harga diri para tahanan itu sudah terlalu diinjak, maka semangat melawan penjajah tak bisa dibendung. Cerita-cerita tercecer dari orang-orang “tanpa sejarah” ini dirajut kembali.